CIBINONG – Rasa syukur dan bahagia dirasakan Suwondo (55), seorang tukang becak yang sehari-hari mencari nafkah di kawasan Pasar Citeureup, Kabupaten Bogor. Setelah 20 tahun mengandalkan tenaga kayuh untuk menghidupi keluarga, kini ia mendapatkan kesempatan menggunakan becak listrik gratis melalui program bantuan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Bagi Suwondo, bantuan tersebut bukan sekadar kendaraan baru, tetapi juga bentuk perhatian yang memberikan harapan baru bagi para pengayuh becak konvensional yang selama ini harus mengandalkan kekuatan fisik untuk mencari nafkah.
Dengan penuh rasa syukur, Suwondo menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas bantuan becak listrik yang diterimanya.
“Terima kasih untuk Bapak Presiden telah memberikan becak gratis untuk kami para tukang becak,” ungkap Suwondo.
Ia mengaku sangat senang mendapatkan bantuan tersebut. Pasalnya, setelah puluhan tahun mengayuh becak secara manual, kini dirinya dapat bekerja dengan kendaraan yang menggunakan tenaga listrik sehingga tidak perlu mengeluarkan tenaga sebesar saat menggunakan becak konvensional.
“Ya, senang sekali. Beda sih, soalnya ini kayak naik motor. Kalau gowes kan harus mengeluarkan tenaga gede,” tuturnya.
Suwondo yang sehari-hari mangkal di kawasan Pasar Citeureup mengungkapkan, proses pendataan untuk mendapatkan bantuan becak listrik tersebut terbilang sederhana. Ia hanya diminta melampirkan identitas diri berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP).
“Kemarin diproses, didata dulu. Syaratnya cuma KTP doang,” jelasnya.
Meski demikian, Suwondo mengaku masih perlu beradaptasi dengan penggunaan becak listrik, terutama dalam mengendalikan kecepatan kendaraan. Ia berharap dapat segera terbiasa mengoperasikan armada barunya agar tetap aman dan nyaman saat melayani penumpang.
“Kalau pakai gas, kalau terlalu kencang kan kadang-kadang jadi masalah kecepatan,” katanya.
Terkait tarif angkut penumpang, Suwondo memastikan akan tetap mempertimbangkan jarak perjalanan dan kemampuan pelanggan. Selama ini, tarif yang diberlakukannya berkisar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu.
“Nggak ada tarif pasti. Kalau agak jauh paling Rp10.000, kalau yang lebih jauh lagi paling mahal Rp15.000. Tergantung jarak,” jelasnya.
Ia juga berharap kehadiran becak listrik tidak membuat pelanggan merasa terbebani dengan kenaikan tarif. Sebab, sebagian besar penumpangnya merupakan pelanggan lama yang sudah terbiasa menggunakan jasa becak di kawasan Pasar Citeureup.
Bagi Suwondo, bantuan becak listrik dari Presiden Prabowo menjadi harapan baru untuk terus bekerja dan mencari nafkah tanpa harus mengandalkan kekuatan fisik sebesar sebelumnya. Setelah 20 tahun mengayuh becak konvensional, ia kini menyambut babak baru dengan penuh rasa syukur dan optimisme.(TIM KOMUNIKASI PUBLIK / DISKOMINFO KABUPATEN BOGOR)
Bagi Suwondo, bantuan tersebut bukan sekadar kendaraan baru, tetapi juga bentuk perhatian yang memberikan harapan baru bagi para pengayuh becak konvensional yang selama ini harus mengandalkan kekuatan fisik untuk mencari nafkah.
Dengan penuh rasa syukur, Suwondo menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas bantuan becak listrik yang diterimanya.
“Terima kasih untuk Bapak Presiden telah memberikan becak gratis untuk kami para tukang becak,” ungkap Suwondo.
Ia mengaku sangat senang mendapatkan bantuan tersebut. Pasalnya, setelah puluhan tahun mengayuh becak secara manual, kini dirinya dapat bekerja dengan kendaraan yang menggunakan tenaga listrik sehingga tidak perlu mengeluarkan tenaga sebesar saat menggunakan becak konvensional.
“Ya, senang sekali. Beda sih, soalnya ini kayak naik motor. Kalau gowes kan harus mengeluarkan tenaga gede,” tuturnya.
Suwondo yang sehari-hari mangkal di kawasan Pasar Citeureup mengungkapkan, proses pendataan untuk mendapatkan bantuan becak listrik tersebut terbilang sederhana. Ia hanya diminta melampirkan identitas diri berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP).
“Kemarin diproses, didata dulu. Syaratnya cuma KTP doang,” jelasnya.
Meski demikian, Suwondo mengaku masih perlu beradaptasi dengan penggunaan becak listrik, terutama dalam mengendalikan kecepatan kendaraan. Ia berharap dapat segera terbiasa mengoperasikan armada barunya agar tetap aman dan nyaman saat melayani penumpang.
“Kalau pakai gas, kalau terlalu kencang kan kadang-kadang jadi masalah kecepatan,” katanya.
Terkait tarif angkut penumpang, Suwondo memastikan akan tetap mempertimbangkan jarak perjalanan dan kemampuan pelanggan. Selama ini, tarif yang diberlakukannya berkisar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu.
“Nggak ada tarif pasti. Kalau agak jauh paling Rp10.000, kalau yang lebih jauh lagi paling mahal Rp15.000. Tergantung jarak,” jelasnya.
Ia juga berharap kehadiran becak listrik tidak membuat pelanggan merasa terbebani dengan kenaikan tarif. Sebab, sebagian besar penumpangnya merupakan pelanggan lama yang sudah terbiasa menggunakan jasa becak di kawasan Pasar Citeureup.
Bagi Suwondo, bantuan becak listrik dari Presiden Prabowo menjadi harapan baru untuk terus bekerja dan mencari nafkah tanpa harus mengandalkan kekuatan fisik sebesar sebelumnya. Setelah 20 tahun mengayuh becak konvensional, ia kini menyambut babak baru dengan penuh rasa syukur dan optimisme.(TIM KOMUNIKASI PUBLIK / DISKOMINFO KABUPATEN BOGOR)